Sekretaris Jenderal Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Nirmala Dewi mengatakan para pemain yang baru tiba di Nagoya sempat menerima peringatan darurat. Para atlet bahkan diminta meninggalkan tempat mereka beristirahat setelah sirene peringatan berbunyi.
Situasi tersebut turut terlihat melalui unggahan resmi Tim Indonesia di media sosial. Atlet basket putra Derrick Michael memperlihatkan suasana evakuasi yang dilakukan setelah rombongan tiba di Nagoya.
Perjalanan menuju Jepang juga tidak berlangsung mudah. Rombongan menempuh perjalanan sekitar 40 jam dari Jakarta setelah harus mengubah rute akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Rombongan terlebih dahulu melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya, kemudian melanjutkan penerbangan ke Singapura sebelum bertolak menuju Jepang. Setibanya di Nagoya, para atlet kembali harus menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca setempat.
Meski menghadapi sejumlah kendala, Perbasi berharap kondisi tersebut tidak mengganggu persiapan tim. Tim basket putra memang diberangkatkan lebih awal agar memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan cuaca dan kondisi di Jepang.
Tim nasional basket putra Indonesia dijadwalkan menjalani pertandingan pada 10 September. Perbasi optimistis para pemain dapat segera beradaptasi karena telah terbiasa melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk menjalani latihan maupun pertandingan.
Berbagai tantangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan tim Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Tim basket putra diharapkan tetap fokus menjaga kondisi fisik dan mental serta mematangkan kesiapan pertandingan menghadapi persaingan di ajang olahraga tingkat Asia tersebut.
Liputan : Tim
Redaktur : Arif
0 Response to "Banjir Nagoya Jadi Tantangan Tambahan Timnas Basket Indonesia"
Posting Komentar